CARA MEREKRUT KARYAWAN TERBAIK
Banyak sekali perusahaan yang bercita-cita mendapatkan karyawan terbaik dari berbagai segi dan pencapaian, mulai dari indeks prestasi yang tinggi semasa kuliah, nilai psikotest yang mengagumkan, bahasa Inggris yang mumpuni, kemampuan komunikasi yang handal, skill komputer yang memadai, sampai pada fisik yang prima. Namun tanpa disadari bahwa mengambil karyawan yang terbaik di segala bidang justru akan menjadi bumerang di kemudian hari bagi perusahaan itu sendiri. Mengapa demikian ?.
Coba Anda teliti, di perusahaan Anda saat ini, berapa frekuensi dari karyawan yang mengundurkan diri dan pindah keperusahaan lain per tahun. Amati dan korek keterangan mengapa mereka pindah. Tentu akan beragam jawabannya. Jika yang keluar dari perusahaan Anda adalah salah satu karyawan yang indeks prestasinya tinggi maka hampir dapat dipastikan bahwa dia mencari perusahaan lain dengan gaji tinggi.
Apakah kemudian haram apabila Divisi HRD merekrut jebolan-jebolan universitas terbaik di negeri ini dengan indeks prestasi menjulang ?. Tentu saja tidak, namun manajer-manajer HRD mesti sadar dengan risiko hengkangnya mereka ke perusahaan lain apabila tingkat imbal gajinya tidak sepadan dengan prestasi akademik sang karyawan. Tidak ada yang salah dengan karyawan itu, yang salah justru cara melakukan rekrutmen dari perusahaan.
Jika saya bekerja di bagian HRD, saya akan mengubah strategi rekrutmen yang menitikberatkan pada IQ menjadi SQ (Spiritual Quotient), EQ (Emotional Quotient), dan CQ (Creativity Quotient). Mengapa demikian. Merekrut orang pintar selain berisiko tidak bertahan lama juga beresiko menggunakan “kepintaran”nya untuk mengelabui perusahaan. Begitu banyak korupsi di lembaga-lembaga pemerintahan maupun swasta yang dilakukan oleh orang-orang berpendidikan. Dan saya percaya bahwa orang-orang yang melakukan korupsi di perusahaan swasta juga bukan orang sembarangan dalam riwayat pendidikan formalnya.
Oleh karena itu, saya menawarkan gagasan dalam cara merekrut karyawan terbaik yang InsyaAllah bermaslahat bagi perusahaan dan lingkungannya. Caranya, dalam proses test tertulis maupun interview, kandidat karyawan itu harus dihujani dengan pertanyaan-pertanyaan terkait SQ, EQ, dan CQ. Tanyakan pendapat mereka tentang kebiasaan ibadahnya, konsep emosi, dan kreativitas kerja. Yang kedua, cari informasi background keluarga dari kandidat karyawan. Bagaimana latar belakang pendidikan agama dan budi pekerti di lingkungan keluarga. Apakah orang tuanya pernah terlibat criminal atau rumah tangganya cerai berai. Cari tahu juga track record dari kandidat itu di perusahaan lama. Apakah ia keluar karena murni ingin mencari tempat bekerja lain yang lebih cocok, ataukah justru karena ia dipecat oleh perusahaan lama karena tindak indisipliner.
Mengapa metode di atas terasa begitu aneh ?. Apakah penting mengungkap profil keluarga kandidat karyawan dan juga track record di perusahaan lama. Bagi saya hal itu sangat penting. Latar belakang keluarga meupakan faktor fundamental yang membentuk karakter manusia. Pepatah mengatakan “like father like son”. Anak pasti akan terpengaruh oleh ayahnya. Jika ayahnya memberikan contoh yang baik kepada anaknya maka kelak anaknya akan berusaha memegang petuah-petuah sang ayah. Begitu pula peran ibu. Nasehat-nasehat sewaktu kecil sampai dewasa tentunya akan menjadi pegangan bagi anaknya. Biasanya faktor SQ dan EQ akan terlihat di sini.
Maka meng-interview orang tua dari kandidat karyawan bisa menjadi suatu terobosan dalam proses merekrut karyawan terbaik. Yaitu karyawan yang tidak hanya encer otaknya, namun juga memegang teguh etika dan profesionalitas dalam bekerja, berhati-hati dalam tindakan, tidak ceroboh mengambil keputusan, serta memiliki integritas dan loyalitas yang tinggi kepada perusahaan. Kepintaran tanpa disertai landasan nilai-nilai keimanan menyebabkan potensi terjadinya penyalahgunaan kepintaran tersebut. Menilep uang, memanipulasi laporan keuangan atau membuat pengeluaran keuangan palsu, memark-up kuitansi pembelian barang, dan lain-lain, tentu dilakukan oleh orang yang tak bodoh.
Sedangkan mencari track record dari perusahaan lama tentu saja sangat berguna untuk mengungkap motif perpindahan kerja dari kandidat karyawan yang bersangkutan. Jika ini tidak dilakukan bisa jadi hanya terjadi perpindahan “maling” dari satu tempat ke tempat lain. Apakah perusahaan Anda hanya ingin mendapat “sampah” dari perusahaan lain yang telah mencampakkan karyawannya ?. Tentu saja tidak bukan. Maka berhati-hatilah, jangan sampai perusahaan kecolongan oleh kandidat ber-track record moral jelek.
Popularity: 29% [?]
Tags: manajemen
























June 25th, 2009 11:36 pm
Mas fajar, tingkat pengangguran yang cukup tinggi di negara kita tercinta ini. memaksa banyak lulusan-lulusan universitas harus opputunis dalam mencari pekerjaan. Saya pikir bisa saja hal ini dijadikan strategi oleh perusahaan-perusahaan untuk merekrut orang pintar dengan gaji kecil apalagi lulusan tersebut rata-rata gampang menguasai pekerjaannya (asumsi saja). Dengan begitu banyak lulusan-lulusan tersebut bisa dikatakan terjebak dan harus menyelesaikan ikatan dinasnya dulu :D. Hhmmm jadi kayak curhat nih hehehe. Overall Mr. Spock will said it’s Logic.
January 3rd, 2010 9:16 am
Hai Bro…artikel yg bagus…. main2 ke Blog ku bro