PEMIMPIN = OFFICE BOY
Anda mungkin menganggap konyol judul tulisan ini. Mosok pemimpin yang notabenenya bos atau raja disamakan dengan office boy alias pelayan yang tiap harinya berkutat dengan cucian piring. Tapi tunggu dulu, kita tidak boleh memicingkan sebelah mata kepada pelayan kantor, justru kita harus banyak belajar dari sisi positif seorang office boy.
Saya selama bekerja di perusahaan ini seringkali pulang pada posisi yang paling terakhir diantara rekan sekolega yang lain termasuk dari office boy saya sendiri. Kenapa office boy bisa pulang lebih awal dari bosnya ? Jawabannya : saya tentu tidak ingin membuat aturan yang seenak perut saya sendiri yang membuat penderitaan bagi orang lain. Jam kantor office boy pada dasarnya sama saja dengan jadwal karyawan lainnya. Dia juga manusia yang punya hak pribadi (private rights) yang semestinya dihormati. Apalagi jika jam lembur tidak dikompensasikan ke tambahan income maka jangan sampai kita mendzalimi waktu kebebasan mereka.
Nah, kaitannya antara pemimpin dengan office boy adalah bahwa keduanya berfungsi sama yaitu menjadi pelayan. Bedanya, office boy melayani bos, sedangkan bos melayani semua kepentingan anak buah dan mitra kerjanya. Jadi tidak boleh ada bos yang bersikap sombong kepada siapapun termasuk kepada office boy-nya sendiri.
Makna lain dari “pemimpin = office boy” adalah bahwa pemimpin seharusnya menjadi orang yang memiliki perhatian penuh terhadap kantornya layaknya “juru kunci”, datang paling awal dan pulang paling akhir (meski terus terang saya belum bisa melakukan yang pertama secara tepat waktu terus-menerus). Pemimpin harus juga harus berfungsi sebagai “supervisor” yang mengecek peralatan-peralatan kantor. Yang sering saya dapati adalah keteledoran yang dilakukan staf ketika lupa tidak mematikan peralatan komputer dan peripheral lain seperti printer atau AC. Yach, karyawan juga manusia yang punya khilaf dan salah. Kebiasaan lupa mematikan computer, printer, AC, dan peralatan listrik lainnya mungkin saja terjadi karena beban tugas (load of work) yang tinggi. Atau mungkin mereka memikirkan keluarga yang berada di rumah, orang tua yang semakin udzur, cicilan rumah yang belum terlunasi, dan lain-lain sehingga ingin cepat-cepat pulang untuk menenangkan diri. Maka sang pemimpin harus peka memahami masalah ini. Ia harus siap menjadi “second layer” bagi office boy yang juga pekerjaannya telah menyita waktu. So, jangan terlalu berharap banyak kepada office boy untuk menyelesaikan semua tugas-tugasnya. Bantulah ia dengan kemampuan yang bisa kita lakukan. Sabda Nabi SAW, “Bagi seorang budak jaminan pangan dan sandangnya. Dia tidak boleh dipaksa melakukan pekerjaan yang tidak mampu dilakukannya” (HR. Muslim). Dalam hadits lain, “Janganlah membebani mereka dengan pekerjaan yang tidak dapat mereka tunaikan. Jika kamu memaksakan suatu pekerjaan hendaklah kamu ikut membantu mereka” (HR. Bukhari).
Popularity: 17% [?]
Tags: manajemen, pemimpin






















