SUMBER KESOMBONGAN ITU BERNAMA MOBIL !
Dimana-mana, tidak peduli individu atau perusahaan, kepemilikan kendaraan roda 4 (empat) selalu dipandang sebagai salah satu bentuk pengakuan terhadap jabatan yang disandangnya. Artinya, mobil memang menjadi suatu benda yang lekat dengan jabatan tertentu terutama level manajerial ke atas.
Terbukti sudah apa yang telah Allah SWT firmankan dalam QS Ali Imran ayat 14 yang artinya : ”Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini yaitu wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas perak, kuda pilihan, binatang ternak dan sawah ladang.” Kuda pilihan dalam jaman modern ini dapat ditafsirkan sebagai kendaraan yang dipakai manusia dalam bekerja atau beraktivitas. Dan secara umum, manusia gampang terpesona dengan kemewahan dunia, termasuk mobil mahal dengan body super mulus, velg racing berkilauan, dan audio system yang menggelegar.
Jika diamati, kepemilikan harta berupa mobil dapat menjerumuskan manusia dalam jurang kesombongan. Lihatlah, kedudukan dan wibawa seseorang pasti lebih banyak diukur dari jenis mobil apa yang ditunggangi pemiliknya. Semakin mewah mobil yang ditongkrongi, semakin tinggi pula derajat manusia di mata orang. Sehingga kemudian mobil telah menjadi stempel bagi sahnya seseorang dalam menduduki jabatan tertentu. Siapa sih manajer-manajer perusahaan yang tidak bermobil ?. Dan kalaulah tidak bermobil, seberapa bertahan mereka menghadapi gunjingan kolega-kolega bisnisnya atau justru dari anak buahnya sendiri !.
Memiliki mobil tentu bukan perkara haram. Ia bernilai mubah saja layaknya kita memiliki benda-benda lain. Namun yang disayangkan adalah bahwa ukuran kewibawaan jabatan hanya disandarkan pada aspek lahiriah semata, termasuk aksesoris-aksesoris fisik seperti mobil. Pimpinan perusahaan, apalagi yang selalu berhubungan dengan customer, tanpa mobil ibarat berperang tanpa senjata. Anak buah pun kurang bangga dengan bos yang tak bermobil. Betapa celakanya bukan dunia ini !. Calon customer sering kurang yakin dengan produk yang ditawarkan manajer pemasaran yang datang tanpa mobil. Artinya mobil sering sekali dikait-kaitkan dengan kualitas bisnis. Padahal stigma ini telah menyeret manusia pada kesalahan yang sangat fatal.
Akibat kesilauan-kesilauan terhadap materi itu, manusia kemudian lupa dengan Sang Pemberi Rizki. Mobil mungkin saja berada dalam genggamannya, namun ia tidak sadar bahwa Allah SWT tidak akan pernah mencatat amal perbuatan manusia dari kepemilikan harta yang satu ini. Ketakwaan seseorang tidak ada kaitannya dengan mobil. Bahkan jika mobil itu mendatangkan kesombongan bagi pemiliknya maka benda ini tidak mendatangkan manfaat sama sekali. Silakan baca saja ujung dari QS An-Nissa ayat 36 yang artinya : “Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membangga-banggakan diri.” Jadi bersabarlah bagi pelaku-pelaku kunci bisnis yang telah diberi kelapangan rizki dengan harta benda yang melimpah. Jika harta itu kemudian menjadikan kesombongan maka Allah SWT sudah menyiapkan ganjaran yang setimpal.
Popularity: 8% [?]
Tags: syariah























