| Cara Bijak Menghadapi Ujian AAMAI |
|
|
|
| Written by pojokasuransi.com | |
| Sep 15, 2007 at 03:01 PM | |
|
Ujian AAMAI sebagai bentuk pengakuan dari asosiasi bukanlah sekedar momen ujian yang dapat dilalui secara instan. Oleh karena itu sebaiknya jangan pernah menyepelekan masalah persiapan sebagai salah satu komponen penting agar peserta ujian dapat lolos dengan baik. Dengan adanya kurikulum baru pada sektor kerugian, maka
bentuk-bentuk soal yang keluar pun akan mengacu pada modul baru dimana
rata-rata modul utama diambil langsung dari CII London. Bahasa pengantar yang
dipakai tentu bahasa Inggris. Hal ini barangkali menjadi salah satu penghambat
bagi kandidat yang lebih suka membaca modul dalam bahasa Indonesia. Tapi apakah
langkah mencari terjemahan menjadi strategi yang tepat ? Jawabannya tidak
selalu demikian. Penulis yang mengalami masa transisi dari kurikulum lama ke
kurikulum baru menghadapi persoalan yang sama. Dan langkah yang penulis ambil
adalah tetap mempelajari modul dalam bahasa aslinya. Hal ini dikarenakan kita
akan lebih mudah menyesuaikan pertanyaan ujian dengan jawaban yang yang ada
dalam modul. Tidak semua istilah dalam bahasa Inggris mudah untuk
dicari padanannya dalam bahasa Indonesia. Dan dalam soal ujian AAMAI pun,
terkadang istilah yang ditanyakan tetap dipertahankan dalam kosa kata bahasa
Inggris. Hal lain
yang juga sering menjadi bahan pertimbangan, apakah kita harus mengambil 1
subjek per periode atau langsung mengambil 2 atau 3 subjek sekaligus guna
mengejar target pencapaian gelar. Jawabannya tentu dikembalikan kepada
kemampuan masing-masing kandidat. Dalam sejarah ujian AAMAI, memang terdapat
kasus gemilang dimana ada peserta yang mampu lolos ujian AAMAI untuk 3 subjek
sekaligus hanya dalam sekali periode ujian. Sebuah prestasi yang fenomenal !.
Tapi pencapaian tersebut tentu tidak dapat diperoleh dengan mudah. Masalah
ketersediaan bahan ujian dan waktu yang mencukupi menjadi hal penting. Oleh
karena itu, antara mengambil 2 atau 3 subjek dengan 1 subjek harus
memperhatikan ketersediaan bahan ujian plus alokasi waktu belajar. Terdapat
mitos lain yang pernah penulis dengar diantara peserta ujian yaitu menyangkut
lokasi ujian. Semakin kecil kota tempat ujian berlangsung, prosentase
kemungkinan kelulusannya akan semakin tinggi. Maka ujian di kota-kota besar
seperti Jakarta, Bandung atau Surabaya yang memiliki jumlah peserta sangat
besar akan mempersempit peluang lolos. Anggapan ini tentu saja keliru dan tidak
beralasan. Besar
kecilnya kota lokasi ujian tidak mempengaruhi kemungkinan apakah Anda akan
memiliki peluang lebih besar atau kecil. Semuanya sama saja. Ujian AAMAI
didesain sedemikian rupa agar tidak sekedar menjadi ajang pencarian sertifikat
gelar profesi, namun disusun dengan memperhatikan standard ujian sertifikasi
sejenis. Terakhir, jangan sekali-sekali melakukan cheating alias
menyontek ketika ujian berlangsung. Keberhasilan kandidat meraih gelar profesi
dengan cara tak jujur tidak akan membawa manfaat sama sekali. Berharap bahwa
pengawas ujian lengah dan di saat itulah terdapat peluang melakukan cheating
hanya menjadikan kandidat terjebak sebagai seorang pecundang. Beruntung jika
tidak ketahuan tapi buntung ketika kepergok dengan aksi liciknya. Meski
pengawas ujian mungkin saja tidak akan menegur Anda pada saat itu tapi mereka
memiliki catatan khusus tentang perilaku kandidat yang melanggar tata tertib
ujian. Jadi jangan pernah berharap mendapat tujuan dengan cara instan namun
tidak jujur. Jadilah juara dan jawara sejati melalui cara yang fair. Inilah
cara paling bijak agar kita dapat mencapai kesuksesan dalam menghadapi ujian
AAMAI. Selamat mengejar impian Anda !. |










