Penentuan Harga Pertanggungan Polis Asuransi Kebakaran pada Objek Agunan Kredit Bank

Dalam praktek (mungkin) masih sering dijumpai adanya permohonan asuransi kebakaran (fire insurance) atas objek agunan bank (yang ditujukan kepada perusahaan asuransi rekanan) dimana nilai pertanggungan (sum insured) yang tercantum dalam SPPA (Surat Permohonan Penutupan Asuransi) sama dengan nilai kredit atau nilai pembiayaan yang dikucurkan bank kepada debiturnya.

Contoh, jika bank mengucurkan kredit atau pembiayaan konsumer kepada debiturnya senilai Rp 100 juta yang meletakkan objek rumah tinggal debitur sebagai jaminan fidusia maka pihak officer bank biasanya langsung menggunakan angka Rp 100 juta tadi sebagai nilai pertanggungan (sum insured) polis asuransi kebakaran yang kemudian dimintakan kepada perusahaan asuransi rekanan untuk diterbitkan polis asuransinya. Penetapannya memang terlihat simple : berapa nilai kredit yang dikucurkan bank, itulah angka yang kemudian dijadikan patokan sebagai harga pertanggungan (sum insured) asuransi atas objek agunan dimaksud. Meskipun tidak juga salah namun dari sudut praktek asuransi akan ada konsekuensinya saat terjadi klaim.

Sebenarnya semua jenis polis asuransi kebakaran tidak mengharuskan nilai pertanggungannya fully insured. Dengan kata lain mau under insurance maupun over insurance pun dapat diterima, hanya saja ada konsekuensi atas pilihan tersebut. Nah, rata-rata bank mengisi nilai pertanggungan di SPPA-nya sebatas nilai kredit yang diberikan kepada debitur meski actual cash value-nya lebih tinggi dari itu. Bisa jadi karena pihak bank tidak mau direpotkan dengan pengisian SPPA atau disengaja untuk mempermudah dan meringankan biaya premi yang harus dibayar. Atau bisa jadi karena memang terdapat kesalahfahaman dalam menafsirkan prinsip asuransi kerugian yang disamakan dengan prinsip asuransi jiwa kredit.

Harga pertanggungan (sum insured) dalam asuransi kebakaran sebenarnya tidak ada kaitannya sama sekali dengan berapa besar nilai pinjaman atau nilai kredit yang dikucurkan bank kepada nasabahnya. Konsep asuransi kerugian berbeda dengan konsep asuransi jiwa. Dalam case ini yang dijamin bukanlah nilai kreditnya namun nilai fisik properti yang dijadikan agunan dimana nilai properti tidak selalu sama dengan nilai pinjaman kredit. Dalam asuransi jiwa kredit, jika nasabah meninggal dunia maka nilai klaim yang diajukan bank tentulah sesuai dengan nilai outstanding pembiayaannya namun tidak demikian untuk asuransi kebakaran properti debitur. Nilai penyelesaian klaimnya disesuaikan dengan berapa nilai kerugian fisik bangunan yang rusak.

Dalam contoh kasus seorang debitur bank mengajukan kredit dan disetujui sebesar Rp 100 juta dimana pihak bank mensyaratkan adanya objek agunan berupa rumah tinggal senilai Rp 250 juta (anggaplah ini merupakan nilai ACV) maka nilai pertanggungan dalam polis asuransi kebakaran (fire insurance) yang diajukan bank seharusnya sebesar Rp 250 juta, bukan Rp 100 juta. Apabila bank hanya mengasuransikan sebesar Rp 100 juta maka polis yang diterbitkan perusahaan asuransi dapat dikategorikan sebagai under insurance policy (polis dengan pertanggungan di bawah harga).

Meskipun sah-sah saja menetapkan pertanggungan di bawah harga namun kondisinya menjadi kurang menguntungkan bagi debitur bank saat terjadi musibah kebakaran karena klaim yang akan dibayarkan oleh perusahaan asuransi penerbit polis akan memakai perhitungan pro rata condition of average (klaim yang akan dibayarkan tidak akan penuh). Ilustrasinya, jika misalnya terjadi klaim partial loss dengan nilai disetujui (approved claim) sebesar Rp 50 juta untuk pertanggungan Rp 100 juta dengan value at risk (VAR) Rp 250 juta maka pihak bank atau debiturnya hanya akan menerima pembayaran klaim sebesar (Rp 100 juta : Rp 250 juta) x Rp 50 juta = Rp 20 juta.

Penutup

Konsep asuransi kredit jiwa (credit life insurance) berbeda dengan konsep asuransi kebakaran dimana kepentingan bank pada asuransi jenis pertama terkait langsung dengan besarnya nilai kredit yang dikucurkan (akan makin menurun sejalan dengan nilai sisa tagihan debitur), sedangkan pada jenis polis kedua terkait dengan nilai objek yang dijadikan agunan. Polis pertama akan dapat diklaim ke perusahaan asuransi saat debitur meninggal dunia dalam jangka waktu kredit berlangsung, sedangkan polis kedua dapat diklaim jika objek agunan mengalami kebakaran.

Share this article :

Leave a Reply

Your email address will not be published.